Muara Enim — Ada yang hangat di halaman Pondok Pesantren Laa Roiba Muara Enim. Bukan sekadar perayaan hari jadi, melainkan denyut syiar yang dirawat dengan cara yang sederhana namun bermakna: lomba.
Dalam rangka Milad ke-7, pesantren ini menggelar Lomba Islami yang mengundang anak-anak hingga remaja untuk datang, belajar, dan bertumbuh bersama.
Pembukaan kegiatan dijadwalkan pada Selasa, 5 Mei 2026. Sementara itu, puncak Milad ke-7 akan digelar dua hari berselang, tepatnya 7 Mei 2026, di lingkungan pesantren yang terletak di Jalan Mayor Tjek Agus Kiemas, Desa Kepur, Muara Enim.
Lomba-lomba yang disiapkan bukan sekadar ajang adu kemampuan. Ia adalah ruang kecil tempat benih-benih kebaikan ditanam.
Mulai dari Fashion Show untuk anak usia dini, ceramah, tartil Al-Qur’an, hingga cerdas cermat dan baca puisi—semuanya dirancang sebagai jalan bagi anak-anak untuk mengenal Islam dengan wajah yang ramah dan menggembirakan.
Di tengah arus zaman yang seringkali menjauhkan generasi muda dari akar nilai, kegiatan semacam ini menjadi penting.
Ia bukan hanya soal menang atau kalah, tetapi tentang keberanian tampil, ketekunan belajar, dan keikhlasan mengekspresikan diri dalam bingkai keislaman. Dari panggung-panggung kecil itulah, karakter perlahan dibentuk.
Lebih dari itu, lomba ini juga menjadi jembatan silaturahmi. Anak-anak datang dari berbagai sekolah, guru dan orang tua saling bertemu, dan pesantren kembali menjadi ruang bersama—tempat ukhuwah dirajut tanpa sekat. Milad ke-7 bukan hanya milik lembaga, tetapi menjadi milik umat yang ikut merasakan denyutnya.
Koordinator Perlombaan, Pustrini Hayati, S.Pd.I, menyampaikan bahwa kegiatan ini diniatkan sebagai bagian dari dakwah yang membumi.
“Lomba ini bukan semata kompetisi. Kami ingin menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan, agar anak-anak mencintai Al-Qur’an, berani tampil, dan bangga dengan identitas keislamannya. Ini bagian kecil dari ikhtiar menjaga syiar,” tuturnya.
Pendaftaran telah dibuka sejak 20 April hingga 3 Mei 2026, bertempat di Pondok Pesantren Laa Roiba. Panitia pun mengundang seluas-luasnya putra-putri muslim dan muslimah untuk ambil bagian dalam kegiatan ini.
Barangkali dari lomba sederhana ini, lahir generasi yang kelak tak hanya cerdas, tetapi juga beradab. Generasi yang tidak sekadar pandai membaca zaman, tetapi juga mampu menjaga iman. Dan di sanalah, makna Milad menemukan ruhnya: bukan hanya bertambah usia, tetapi bertambah manfaat bagi umat.

