Iklan

Kamis, 28 Mei 2026, Mei 28, 2026 WIB
Last Updated 2026-05-28T14:42:34Z
CerpenPendidikanSastra

Ayam-Ayam yang Masuk Surga Sebelum Pemiliknya



Cerpen Imron Supriyadi

 

Di kampung yang jika malam terdengar seperti orang sedang mengaji di dalam perut bumi itu, hiduplah sepasang suami istri yang wajahnya lebih sering tampak pasrah ketimbang bahagia.

 

Orang-orang memanggil lelaki itu Ustadz Alif Ramadhan. Usianya lima puluh empat tahun, tetapi pundaknya tampak seperti memikul umur tujuh puluh. Sedangkan istrinya, Ustadzah Jayanti, perempuan tiga puluh sembilan tahun yang jika berjalan membawa ember air sumur, langkahnya seperti doa yang sedang mencari langit.

 

Mereka tinggal di sebuah rumah kecil berhadapan dengan pondok pesantren milik Kiai Masdarul di pelosok OKU Selatan. Jarak rumah dan pondok hanya dipisah jalan tanah selebar empat meter.

 

Bila santri bersin di pondok, Jayanti bisa mendengar gema “alhamdulillah”-nya sampai dapur. Bila Jayanti menumbuk cabai, santri-santri pondok kadang mengira ada beduk magrib dipukul lebih awal.

 

Setahun sebelumnya, Kiai Masdarul meminta Ustadz Alif mengelola pondok kecil itu. Permintaan itu bukan sekadar permintaan. Itu semacam hutang sejarah. Kiai Masdarul adalah sahabat lama ayah Alif yang telah wafat.

 

Persahabatan mereka dulu seperti kopi pahit dan rokok klembak: sederhana tetapi sulit dipisahkan. Bersama mereka tinggal seorang anak kecil bernama Muhammad Akbar, murid kelas tiga Madrasah Ibtidaiyah.

 

Akbar putra bungsu Ustadz Alif dan Ustadzah Jayanti. Kakak perempuanya sdah menikah dengan putra kiai di Banyuasin Sumatera Selatan. Sementara, Kahfi, kakaknya sedang nyantri di Sidogiri Pasuruan.

 

Sejak kedua kakaknya tak membersamainya, Akbar seolah kehilangan tempat bercegkrama. Makan susah. Sedikit-sedikit menyebut nama kakaknya.

 

Karena batinnya sepi dari tawa dan canda kedua kakanya, tubuhnya Akbar terlihat kurus. Tapi matanya bening. Hanya sesekalitawanya sering membuat halaman rumah terasa lebih luas dari dunia. 

 

Mengusir rasa sepi, Akbar kembali pada kegemaran yang aneh untuk anak seusianya: memelihara ayam. Mungkin sebab di kampung itu ayam lebih mudah diajak bicara daripada manusia.

 

Ayam tidak pernah bertanya soal mazhab, pilihan politik, atau organisasi. Ayam cuma butuh makan dan sedikit kasih sayang.

 

Ketika neneknya, Maryani, datang dari kampung sebelah, Akbar meminta dibelikan sepasang ayam. Maryani tertawa sampai gusinya tampak.

 

“Anak sekarang minta HP. Cucuku malah minta ayam,” katanya.

Tetapi bagi seorang nenek, permintaan cucu lebih sakral daripada khutbah Jumat. Maka dibelikannya sepasang ayam kampung: seekor jantan putih kehitaman dan seekor betina cokelat kusam yang jalannya seperti ibu-ibu habis arisan.

Akbar girang bukan main.

 

Setiap pagi ia menatap ayam-ayam itu seperti seorang raja kecil memeriksa pasukan perang. Ia memberi makan dengan telaten. Kadang sambil mengajak bicara.

 

“Ayam, cepat besar ya. Jangan nakal.”

 

Ayam tentu tak menjawab. Tetapi dunia ini memang dipenuhi makhluk yang lebih senang mematuk daripada mendengar nasihat.

 

Tak lama, ayam betina bertelur sebelas butir. Hanya sembilan yang menetas. Namun bagi Akbar, sembilan anak ayam itu sudah seperti sembilan mukjizat kecil.

 

Anak-anak ayam itu lucu. Bulunya seperti kapas kotor. Kakinya kecil-kecil. Kalau berlari tampak seperti doa-doa pendek yang tercecer di halaman.

 

Awalnya mereka tinggal di kandang bambu belakang rumah. Tetapi ayam adalah makhluk yang tidak mengenal sertifikat tanah. Mereka tidak paham batas kepemilikan. Tidak mengerti pagar. Tidak pernah belajar hukum agraria.

 

Sedikit demi sedikit mereka mulai bergaul dengan ayam pondok. Bertengger di ranting mangga. Mengais tanah halaman pesantren. Bahkan ayam jago putih kehitaman milik Akbar mulai sok akrab dengan ayam-ayam pondok yang jumlahnya cuma empat atau lima ekor.

 

Melihat ayamnya berkembang, Akbar makin bersemangat. Ketika pamannya, Irfan, datang, ia merengek minta tambahan indukan.

 

“Agar cepat banyak,” katanya.

 

Orang dewasa sering kalah oleh ambisi anak kecil yang dibungkus kepolosan. Irfan pun membelikan beberapa ayam lagi.

 

Maka berkembanglah kerajaan unggas itu. Ada ayam hitam legam seperti ustadz yang baru pulang dari tabligh akbar. Ada ayam blorok putih seperti sarung murah pasar kalangan. Ada ayam yang lehernya bercorak batik cokelat seolah pernah mondok di Pekalongan.

 

Pagi dan sore, Akbar menabur beras sambil bersiul. Ayam-ayam datang berlarian. Pemandangan itu membuat halaman rumah tampak hidup seperti cerita rakyat.

Namun segala yang tumbuh biasanya juga menumbuhkan masalah.

 

Ayam-ayam itu mulai tidur di pohon sekitar pondok. Siang hari berkeliaran di lapangan pesantren. Berak sembarangan. Dan di negeri ini, tahi sering lebih cepat terlihat daripada kasih sayang.

 

Suatu sore, Akbar dengan bangga bercerita kepada teman-temannya.

 

“Ayam kami sudah banyak.”

 

Tak disangka, Kiai Masdarul mendengarnya. Kiai itu tertawa pendek lalu berkata spontan, “Iya, ayam kamu banyak… tai-nya ke pondok.”

 

Kalimat itu mungkin cuma gurauan bagi orang dewasa. Tetapi bagi hati anak kecil, kadang satu kalimat lebih tajam daripada parang.

 

Akbar diam. Wajahnya mendadak redup seperti lampu minyak kehabisan sumbu.

Malamnya ia menceritakan ucapan itu kepada ayahnya. Ustadz Alif hanya tersenyum kecil.

 

“Ah, Pak Kiai cuma bercanda.”

 

“Tapi wajahnya serius, Yah…”

 

Anak kecil sering lebih jujur membaca wajah daripada politisi membaca penderitaan rakyat.

 

Sejak saat itu Akbar mulai memperhatikan ayam-ayamnya dengan rasa bersalah kecil yang tumbuh diam-diam.

 

Memang kini ayam-ayam itu sulit dibedakan dengan ayam pondok. Mereka membaur seperti manusia saat rebutan bantuan sosial: semua merasa paling berhak. Namun Akbar hafal ayam-ayamnya.

 

Suatu sore ia membawa seekor ayam jago putih kehitaman.

 

“Yah, kita potong ini buat lauk!”

 

Ustadz Alif memperhatikan ayam itu lama.

 

“Nak… yakin ini ayam kita?”

 

“Tadi ada kakak pondok bilang itu ayam mereka…”

 

“Nah, kan?.”

 

“Tapi Umi bilang itu ayam kita.”

 

Alif menghela napas panjang. Napas orang miskin biasanya lebih berat karena terlalu sering menahan keinginan.

 

“Kalau ragu, lepaskan.”

 

“Tapi Yah—”

 

“Jangan makan sesuatu yang belum jelas milik kita.”

 

Jayanti ikut membela.

 

“Itu memang ayam kita. Yang emaknya dulu dimakan musang.”

 

Tetapi Alif menggeleng pelan.

 

“Kalau hati masih ragu, tinggalkan. Jangan sampai jadi daging syubhat.” Lalu ia berkata pelan, seperti sedang mengaji kepada dirinya sendiri:

 

“Sebenarnya tidak ada ayam yang benar-benar milik kita. Kita cuma membeli, memberi makan, lalu merasa memiliki. Padahal yang menghidupkan Allah. Yang membesarkan Allah. Kita ini cuma numpang merasa punya.”

 

Kalimat itu meluncur sederhana. Tetapi seperti hujan kecil yang jatuh ke dalam sumur hati.

 

Ayam itu akhirnya dilepas. Hari-hari kembali biasa. Pagi-pagi Akbar memanggil ayam-ayamnya. Mereka datang berduyun-duyun. Berlari kecil sambil berkokok riuh. Kadang Akbar tertawa sendiri melihat tingkah mereka.

 

Tetapi kegembiraan itu tak bertahan lama. Idul Adha datang. Dan seperti biasa, setiap perayaan keagamaan, yang paling dulu dikorbankan sering kali justru orang kecil.

Suatu sore Jayanti pulang dari pondok sambil membawa kabar.

 

“Ustadz Zakaria bilang… untuk lauk santri pas Idul Adha, minta ayam kita.”

Akbar yang sedang memberi makan ayam mendadak diam. Jayanti menirukan percakapan itu.

 

“Oh silakan saja. Memang untuk sedekah santri.”

 

“Jadi itu bukan ayam milik Umi?” tanya Ustadzah Sherli waktu itu.

 

“Kita cuma memelihara,” jawab Jayanti ringan. “Yang bikin hidup Allah.”

 

Dua hari sebelum Idul Adha, Ustadz Zakaria mengirim pesan kepada Alif.

Ustadz, izin mengurangi ayam yang berkeliaran di pondok untuk makan santri panitia kurban.

 

Alif menjawab tenang.

 

Ambil seperlunya. Tinggalkan yang masih kecil atau yang sedang mengeram.

 

Malam usai maghrib, halaman rumah Ustadz Alif gaduh. Santri-santri berlarian menangkap ayam. Kokok bersahutan. Daun dan debu beterbangan. Akbar berdiri di depan pintu seperti anak kecil yang sedang melihat separuh dunianya dicabut paksa.

 

Malamnya rumah terasa sunyi. Tak ada lagi bunyi kepak sayap di halaman.

Tak ada lagi ayam berebut beras. Yang tersisa cuma indukan tua, beberapa anak ayam kecil, dan seekor ayam jago hitam yang memang terlalu liar untuk ditangkap.

 

Akbar murung. Matanya sembab.

 

“Yah… mereka ambil kebanyakan.”

 

“Tidak apa-apa. Itu jadi makanan santri.”

 

“Tapi ini namanya dikasih hati minta jantung…”

 

Alif menahan senyum getir.

 

Kadang anak kecil lebih jujur daripada ustadz di mimbar.

 

“Jangan mendoakan buruk, Nak.”

 

“Tapi Akbar—” kalimatnya terhenti.

 

“Akbar,” koreksi Jayanti pelan.

 

Akbar menunduk.

 

“Akbar sedih…”

 

Alif mengusap kepala anaknya.

 

“Kalau dulu Allah yang menggerakkan hati kita memelihara ayam, sekarang mungkin Allah sedang mengambilnya lewat tangan orang lain.”

 

Akbar terdiam lama. Lalu lirih berkata:

 

“Berarti ayam-ayam itu masuk surga duluan ya, Yah?”

 

Alif menatap langit malam. Entah mengapa pertanyaan itu terasa lebih berat daripada kitab-kitab tebal di rak pondok.

 

“Mungkin,” jawabnya pelan.

 

Sejak ayam-ayam itu disembelih, halaman terasa lengang. Angin malam terdengar lebih sepi. Akbar beberapa kali berdiri di depan pintu memandangi pohon-pohon kosong.

 

“Aduh… sepi tanpa ayam…”

 

Lalu ia menambahkan dengan suara lirih:

 

“Tapi mereka pasti sudah masuk surga.”

 

Dua tahun berlalu. Akbar tumbuh lebih besar. Dan seperti manusia yang belajar dari luka, kali ini ia memelihara ayam dengan kandang yang rapi.

 

Tak ada lagi ayam berkeliaran di pondok. Tak ada lagi persoalan tahi ayam bercampur politik kepemilikan.

 

Akbar mulai menjual ayam. Teman-temannya membeli untuk ulang tahun, akikah kecil-kecilan, sampai hajatan kampung.

 

Suatu hari Ilham bertanya sambil bercanda:

“Ini gratis atau bayar?”

 

Akbar menjawab cepat:

 

“Kalau mau gratis, pelihara sendiri.”

 

Jawaban itu membuat Ustadz Alif tertawa keras.

 

Dari situlah lahir usaha kecil bernama Ternak Akbar Barokah. Mulanya cuma ayam dan kambing beberapa ekor. Lama-lama berkembang. Ketika Akbar berangkat mondok ke Jawa Timur, usaha itu justru membesar.

 

Ustadz Alif dan Ustadzah Jayanti kemudian mendirikan Pondok Pesantren Sukaraja di OKU Selatan. Pesantren kecil yang hidup dari ternak, bukan proposal bantuan.

 

Mereka belajar satu hal dari ayam-ayam dulu: bahwa keikhlasan kadang lahir bukan ketika memberi yang berlebih, tetapi ketika kehilangan sesuatu yang paling disayang sambil tetap berkata, “Tidak apa-apa.”

 

Dan di kampung itu, hingga bertahun-tahun kemudian, orang-orang masih suka tertawa mengenang kisah ayam Akbar.

 

Tentang bagaimana sekawanan ayam pernah membuat seorang anak kecil belajar tauhid lebih cepat daripada banyak orang dewasa.

 

Sebab kadang manusia terlalu sibuk mengaku memiliki, sampai lupa bahwa dirinya sendiri pun sebenarnya cuma titipan.**

 

Muara Enim, 28 Mei 2025 / 9 Dzulhijah 1447 H