Dugaan Potensi Penyelewengan Dana MBG bisa berasal dari semua lapis :
1. Kepala BGN
2. Kepala Dapur
3. Pemilik Yayasan
4. Pemilik Dapur
5. Karyawan
Kita jelaskan satu-persatu!
Kasus yang menjerat mantan petinggi BGN menjadi pengingat bahwa program sebesar apa pun tidak kebal dari penyimpangan.
Jangan pernah berpikir bahwa potensi korupsi hanya ada di satu meja atau satu jabatan.
Semakin besar anggaran, semakin banyak titik rawan yang harus diawasi.
1. Kepala BGN
Jika terjadi penyimpangan di level tertinggi, dampaknya bisa sistemik.
Potensinya antara lain:
- Jual beli titik SPPG, tidak melalui portal resmi!
- Permintaan setoran dari bawah.
- Pengaturan yayasan tertentu untuk mendapatkan proyek.
- Penyalahgunaan kewenangan dalam penunjukan mitra.
- Praktik gratifikasi dan suap.
Ketika yang bermain adalah pengambil kebijakan, maka kerusakannya bisa menjalar ke seluruh rantai program.
2. Kepala Dapur/SPPG
Potensi penyimpangannya:
- Mengurangi kualitas bahan makanan.
- Mengurangi porsi yang diterima anak-anak.
- Memalsukan jumlah penerima manfaat.
- Membuat laporan distribusi yang tidak sesuai fakta.
- Berkolusi dengan pemasok untuk mark-up harga.
Jika di atas kertas 1.000 porsi, tetapi yang sampai hanya 900 porsi, maka kebocoran sudah terjadi.
3. Pemilik Yayasan
Potensinya:
- Menjadikan program sosial sebagai ladang bisnis pribadi.
- Membebankan biaya yang tidak wajar.
- Menggunakan yayasan sebagai kendaraan menguasai banyak titik.
- Membentuk jaringan yayasan untuk memperluas kontrol dana.
- Mengutamakan kepentingan kelompok daripada kepentingan penerima manfaat.
Semakin banyak titik yang dikuasai satu kelompok, semakin besar pula potensi konflik kepentingan.
4. Pemilik Dapur
Potensi penyimpangannya:
- Membeli bahan murah tetapi melaporkan harga mahal.
- Mengurangi standar kualitas makanan.
- Mengurangi jumlah lauk atau kandungan gizi.
- Memalsukan nota pembelian.
- Bermain harga dengan pemasok tertentu.
Kebocoran Rp500 hingga Rp1.000 per porsi mungkin terlihat kecil, tetapi jika terjadi pada ratusan ribu atau jutaan porsi, nilainya bisa sangat besar.
5. Karyawan dan Pelaksana
Potensinya:
- Memanipulasi data penerima.
- Mengurangi bahan baku.
- Mengalihkan distribusi.
- Membantu membuat laporan fiktif.
- Mengetahui pelanggaran tetapi memilih diam.
Banyak kasus korupsi besar tidak terjadi karena satu orang hebat mencuri, tetapi karena banyak orang ikut membiarkan.
6. Pengawas Internal, jika mengetahui pelanggaran tetapi memilih tutup mata. Tapi untungnya Kejagung sudah memantau sejak awal, KPK kemana?
7. Pejabat Daerah dan Mitra Terkait, jika menggunakan pengaruh untuk mendapatkan keuntungan yang tidak semestinya.
8. Masyarakat dan Penerima Manfaat, jika menemukan penyimpangan tetapi memilih diam karena takut, sungkan, atau merasa bukan urusannya.
Yang Perlu Dipahami Rakyat
Korupsi bukan hanya mengambil koper berisi uang.
Korupsi bisa berbentuk:
* Mengurangi kualitas makanan.
* Mengurangi jumlah porsi.
* Mark-up harga bahan baku.
* Memalsukan laporan.
* Menjual pengaruh.
* Menjual jabatan.
* Menjual akses proyek.
Karena itu, ketika ada pejabat yang ditangkap, pertanyaan yang seharusnya muncul bukan:
“Siapa yang akan menggantikannya?”
Tetapi:
“Apakah seluruh rantai pengelolaan dana sudah diaudit?”
Uang MBG bukan uang pejabat.
Bukan uang yayasan.
Bukan uang pemilik dapur.
Itu uang rakyat.
Maka yang harus dikawal bukan hanya orangnya, tetapi seluruh sistemnya.
Sebab sejarah berulang kali membuktikan:
Program yang baik bisa gagal karena orang-orang yang tidak amanah.
Dan sering kali, korupsi besar tidak lahir dari satu pelaku besar.
Ia tumbuh dari banyak penyimpangan kecil yang dibiarkan menjadi kebiasaan.
Di Kutip dari akun FB Sarwandi Eka Sarbini
Editor : Citra WK
