Iklan

Senin, 05 Januari 2026, Januari 05, 2026 WIB
Last Updated 2026-01-05T11:37:35Z
aksi sosialArtikelLuar Negerimomen

Aksi Kejahatan Internasional Donald Trump di Venezuela adalah Wujud Nyata Serakahnya Imperialisme Amerika Serikat


Oleh: Septian Paath (Ketua Harian Koalisi Nasional Reforma Agraria – KNARA)_


Jakarta || Intervensi Amerika Serikat (AS) yang didalangi oleh Presiden Donald Trump terhadap politik negara berdaulat Republik Bolivarian Venezuela di bawah pemerintahan yang sah Nicolas Maduro adalah bentuk paling nekad dan brutalnya imperialisme AS.

Operasi penculikan Presiden Nicolas Maduro beserta istrinya dan aksi penggunaan kekuatan militer yang mengakibatkan kurang lebih 40 orang tewas tidak memiliki alasan untuk dibenarkan dari sudut pandang kemanusiaan, kedaulatan negara maupun hukum Internasional, kecuali karena keserakahan untuk mendominasi suatu bangsa-negara lain.
Aksi brutal yang ditunjukkan AS dan Donald Trump di Venezuela pada 3 Januari 2026 menunjukkan bahwa imperialisme AS telah menampakkan wajah aslinya yang sebelumnya bertopeng “pembawa demokrasi” di dunia.Wajah dan watak aslinya yaitu kekuatan yang serakah dan haus dominasi, siap menginjak-injak semua norma dan hukum Internasional demi memenuhi agenda geopolitics dan ekonominya.

Venezuela, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sudah lama menjadi target AS untuk mengontrol kekayaan sumber daya alam atau energi strategis itu. Selama periode pertama Donald Trump sebagai presiden AS (2017 – 2021), tekanan terhadap pemerintahan sah Venezuela, Nicolas Maduro, meningkat. Mulai dari sanksi ekonomi, dukungan terbuka untuk kudeta, serta sempat mengakui secara sepihak presiden sementara Juan Guaido dan tidak mengakui Nicolas Maduro sebagai Presiden sah Venezuela.

Pada Oktober 2025, aksi AS yang menyerukan perang terhadap Narko-Terorisme, adalah upaya licik Trump untul mengintervensi Venezuela dengan label perang palsu terhadap narkotika dan terorisme. Hasilnya, 4 kapal kecil di Laut Karibia dibom dan menewaskan 21 warga sipil tak bersenjata oleh armada Militer AS dengan dalih perang palsu itu. Tanpa bukti, tanpa pengadilan. Demikianlah berlangsung sampai sekarang, Nicolas Maduro Moros dituduh Trump sebagai pemimpin kartel narkoba yang merusak AS, oleh karenanya AS harus “membela diri”.

Tidak sampai di situ saja, meski dalam tekanan sanksi ekonomi oleh AS, ekonomi Venezuela yang dikonsolidasikan Maduro mulai stabil dan dukungan politik internalnya menguat menjelang 2026. Upaya kudeta lunak dan sanksi ekonomi Trump buntu, sehingga tak mau kehilangan muka, opsi militer dan penculikan Presiden Maduro dipilih sebagai solusi.

Di saat seluruh dunia merayakan akhir tahun dan persiapan tahun baru 2026 dengan damai, tanpa melibatkan Kongres AS-nya, Trump merencanakan sebuah aksi brutal di tanah Amerika Latin. *Belajar dan Bersolidaritas Dengan Venezuela: Dari Perang Palsu, Hugo Chavez dan Jahatnya Imperialisme AS Dapat Menimpa Kita Semua*.

Motif utama dari aksi menjijikkan Trump dan wajah asli imperialisme AS dikuak dengan gamblang oleh mereka sendiri, yaitu sumber daya alam Venezuela. Minyak. Sungguh picik dan memalukan. Alih-alih akan berhasil, motif itu hanya akan ditandai sebagai deklarasi perang global: ancaman terhadap perdamaian dan keamanan Internasional.

Kejahatan Internasional Trump dan AS, bukan hanya menuai kutukan keras dari warga dunia. Negara-negara Non-Blok terus bersuara lantang, bahkan sekutu tradisional AS di Eropa seperti Jerman dan Prancis terpaksa mengeluarkan pernyataan yang menyerukan penghormatan terhadap hukum Internasional, walau dengan nada hati-hati.

Atas aksi AS terhadap Venezuela tersebut dapat menciptakan preseden yang mengerikan. Setiap orang dapat menyimpulkan sebuah prinsip “Anda bisa menculik pemimpin negara yang tidak disukai”, termasuk bisa membunuh siapa saja dengan perang palsu terhadap apa saja. Di Venezuela atas nama narkoba dan terorisme, dulu juga pernah terjadi oleh AS, perang atas nama demokrasi, mungkin nanti bisa perang palsu melawan apa saja, termasuk lingkungan, HAM dan korupsi.

Namun ironisnya, aksi ini juga justru semakin menegaskan persatuan rakyat Venezuela, baik yang mendukung Maduro maupun termasuk sebagian oposisinya. Narasi perlawanan terhadap Imperialis mendapatkan momentum dan bukti yang nyata di mata rakyat Venezuela khususnya dan di mata rakyat dunia.

Menariknya, pola konsisten dari watak imperialisme AS dengan apa yang terjadi di Venezuela sekarang, pernah dialami dan persis dengan peringatan Hugo Chavez, mantan Presiden Venezuela, dalam wawancaranya 2009 silam. Penggalan percakapan itu begini:
Q : Jadi, apakah ada kemungkinan perang?
Chavez: _Kamu tidak melihatnya? Kamu tidak melihat ancaman yang ditimbulkan oleh Imperium AS terhadap kita?_
Q : Mengapa menurutmu AS ingin menyerang Venezuela?
Chavez : _Nah, ada sejarah baru-baru ini. Aku akan memberitahumu alasan terpenting di sini. Di sini, tepat di sini, terdapat cadangan minyak terbesar di planet ini. Di Venezuela, kita memiliki cadangan minyak untuk lebih dari 100 tahun. AS kehabisan minyak. Alasan paling penting mengapa AS ingin menempatkan pemerintahan di sini yang tunduk pada mereka, pada imperium, seperti yang mereka lakukan selama bertahun-tahun di Venezuela, adalah minyak._
Q : Saya ingin bertanya padamu tanpa menyinggungmu, Apakah anda paranoid tentang AS?
Chavez : _Tidak, sama sekali tidak, saya hanya realistis. Jika kamu bisa bertanya pada mereka pertanyaan yang kamu tanyakan padaku. Masalahnya, Anda tidak bisa karena kebanyakan dari mereka sudah meninggal. Tanyakan pertanyaan itu kepada Jocobo Arbenz, yang menjadi presiden Guatemala saat saya lahir, Anda belum lahir saat itu, hanya karena dia ingin melaksanakan reforma agraria, AS menyerang dan menggulingkannya. Anda bisa menanyakan pertanyaan itu kepada Joao Goulart, orang Brasil, AS menggulingkannya. Anda bisa menanyakan pertanyaan itu kepada Salvador Allende, presiden martir. Anda bisa menanyakan pertanyaan itu kepada Juan Bosch, mantan presiden Dominika yang digulingkan oleh invasi AS. Anda bisa menanyakan pertanyaan itu kepada jenderal saya, Omar Torrijos, yang dibunuh oleh CIA. Dan banyak lainnya.
Ini bukan paranoia, ini kenyataan. Saya sedang menjalankan tanggung jawab saya sebagai kepala negara. Para paranoid adalah masalah lain. Mereka yang berada di sayap kanan ekstrem, orang-orang gila yang percaya bahwa dunia tidak akan berubah. Borjuis pengikut AS di benua ini yang ingin terus mendominasi rakyat-rakyat ini dan mereka tidak akan bisa mencapainya. Baru setelah 11 September, AS mulai membuat daftar teroris. Nah, saya juga ada di daftar itu. AS, pemerintah AS, menjatuhkan bom atom di Hiroshima, bom atom, dan satu lagi di Nagasaki. Itu adalah terorisme._
Insiden awal tahun yang mengguncang dunia Internasional ini harus menjadi tonggak kesadaran bagi seluruh bangsa, termasuk Indonesia bahwa ancaman terhadap kemerdekaan dan kedaulatan sebuah negara adalah nyata. Kejahatan terhadap kemanusiaan, harga diri kedaulatan bangsa dan perdamaian dunia sedang diobok-obok oleh kesemena-menaan Trump dan pemerintahan imperialis Amerika Serikat.

Sebagai bangsa Indonesia yang setia pada Pancasila dan amanat Pembukaan UUD 1945, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Maka, berdiri menentang Tindakan brutal imperialisme AS adalah keharusan sejarah dan cita-cita.

Lebih dari itu, mendukung perjuangan rakyat Venezuela terhadap kekejaman AS bukan sekadar perjuangan satu negara, tetapi perjuangan bersama di garis depan pertahanan atas imperialisme abad 21 yang kian nekad dan brutal, yang sewaktu-waktu karena keserakahan dan kesewenang-wenangannya, unilateralisme AS itu dapat menimpa bangsa dan negara manapun, termasuk Indonesia.
Bangun Persatuan Nasional, Lawan Imperialisme Viva Venezuela.